Saturday, August 25, 2012

Bukan Sebuah Kebetulan Namanya


Banyak orang mengira, sebuah kebetulan hanyalah sekedar kebetulan semata. Tidak disengaja dan tidak tau bagamana hal tersebut bisa saja terjadi begitu saja. Namun kali ini sebuah kebetulan malah membawa saya berpikir banyak di tengah malam minggu, dimana kebanyakan orang seusia saya tengah asyik abring-abringan, nongkrong dimana-mana, dan bahkan lagi seru menari sambil menikmati alunan musik dari seorang DJ di sebuah club malam. Ya, tanpa sengaja saya berkenalan dengan seorang pria asal Jerman yang secara sederhana biasa dipanggil Rafi. Sebenarnya kebetulan itu juga bukan pure kebetulan. Sebelum tiba di sebuah mall ternama di Bandung, seorang sahabat telah menceritakan bahwa ada seorang pria Jerman yang tampangnya hampir mirip dengan pacarnya. Namun hanya sekilas saya menyimak hal tersebut. Tak lama setelah tiba di mall tersebut dan jugga usai berkaraoke, pria yang dimaksud sahabat saya itu pun muncul. Awalanya saya tidak begitu antusias untuk berbincang-bincang dengannya. Sebaliknya saya malah antusias dengan seorang gadis mungil asal Taiwan yang begitu seru menceritakan film F4 yang dulu sempat booming dengan aktor utamanya bernama Tao Ming Tse.

Tidak lama berselang, pria bernama Rafi itu pun datang menemui salah satu teman yang duduk tepat berhadapan dengan saya. Tanpa basa-basi ketika Rafi menatap saya, spontan saya pun menyapanya sedikit menggunakan bahasa Jerman. Karena cukup antusias dengan sapaan saya, ia pun malah balik bertanya tenatang alasan saya belajar Bahasa Jerman di salah satu kota yang cukup populer yaitu Ingolstadt. Dengan santai saya jelaskan sedikit tentang background pendidikan yang saya ambil padanya, yang melandasi niat saya melancong ke negaranya. Lama kelamaan, saya beserta dua sahabat saya pun akhirnya malah berpindah kursi dan langsung memulai pertanyaan demi pertanyaan yang masih saja berpusat pada benua eropa khususnya Jerman dan Swiss. Ya, makhlum lah, dua sahabat saya pun punya pacar nan jauh disana.

Pembicaraan pun berlangsung panjang. Entah lah sudah sampai mana saja pembahasan kami, tapi saya terus menyimak apa saja yang ia sampaikan untuk dijadikan bahan pertimbangan untuk merenung malam ini. Tak jauh-jauh ternyata problem yang ia hadapi. Memiliki seorang pacar orang Asia (Korea) dan juga kesulitan untuk menerima banyaknya perbedaan budaya yang akaranya pun sudah bertolak belakang. Namu nampaknya nasib mereka berdua lebih beruntung dibandingkan dengan hubungan yang tengah saya jalani. 

Dengan latar belakang agama budha dan budaya Korea yang mungkin lebih open ketimbang di Indonesia, tentunya si cewek bakal lebih mudah untuk menentukan pilihannya. Sementara saya??? Malam ini malah dibuat semakin galau. Ya begitu lah hidup, ternyata ada juga yang punya masalah hampir mirip dengan saya. Bersyukur ternyata masih ada orang yang merasakan penderitaan yang saya alami ini. Jadi terasa ada lagi teman seperjuangan dalam mempertahankan cinta dua budaya dan dua agama. Dari kejadian yang kebetulan tersebut, saya bisa berkata  bahwa saya bersyukur mengenal orang baru yang juga ternyata membukakan mata saya bahwa hidup itu tidak selamanya sulit untuk diperjuangkan. Hanya beri sedikit waktu untuk bernafas dan berfikir, lalu mulai kembali merangkai masa depan tanpa takut untuk merasakan kegagalan.

Enjoy SatNite!



No comments:

Post a Comment